Berkhayal ke Jaman Singasari


Membaca buku Gajah Mada karangan pakde Langit Kresna Hariadi benar – benar membawa pembaca ke jaman kerajaan Hindu Budha Majapahit. Apalagi di kelima novel tersebut (saking demennya, gw sampe beli kelima seri novel tersebut) dijabarkan juga kilas balik ke jaman Singasari, mulai dari Ken Arok dan kutukan keris Mpu Gandring tersebut. Sensasi baca novelnya kek nonton versi film😀

Cuman sekarang imajinasi gw bukan kepada tokoh Gajah Mada maupun tokoh – tokoh lain, sejarah maupun imajinasi, dalam novel Gajah Mada tersebut, tapi lebih ke Ken Arok dan jaman Singasari. Apalagi disertai Ken Dedes, bunga desa yang membuat Ken Arok nekad menikahi wanita cantik yang hamil tua tersebut (tentu dengan membunuh suaminya dan merebut kedudukan awuku/bupati Tumapel- nama lain Singasari).

ken_arok_and_ken_dedes_by_rhanda_di_candi

ken_arok_and_ken_dedes_by_rhanda_di_candi


Gw sampe membayangkan 2 hal ini :
Pertama, sesi di mana Ken Arok (dengan nekadnya) bawa keris Mpu Gandring (yang sebelumnya dia ambil dari temannya, Kebo Ijo), untuk kemudian ditusukkan ke dada Tunggul Ametung (awuku Tumapel, suami Ken Dedes). Kejadian ini dipergoki oleh Ken Dedes yang tidur di samping Tunggul Ametung (dan tengah hamil tua). Bukannya teriak, malah setuju untuk melindungi Ken Arok (karena cinta) dan jadilah Kebo Ijo sebagai kambing hitamnya (di sini gw bayangin Ken Arok itu romantis abis, nekad abis, dan Ken Dedes itu cantik banget, sehingga bela-belain si Ken Arok mempersunting meski udah jadi istri orang plus lagi bunting)😀
Kedua, sesi ke 20 tahun kemudian setelah sesi pertama, di dalam keraton yang sepi (abis gw baca novel, ada disebutkan, saat itu Paduka Sri Rajasa – gelar Ken Arok setelah menjadi Raja Singasari, bersama anak – anaknya dan para pejabat, kecuali Anusapati, lagi di Kediri, salah satu wilayah bawahannya, dalam rangka pengangkatan salah satu anaknya sebagai raja disana, wakil raja secara tidak langsung). Nah, Anusapati, pangeran dan “putra tertua” sang raja, menjadi sangat heran. Ditambah sikap ayahnya yang sangat berlainan sejak dia kecil. Akhirnya, sebagai naluri seorang anak, pemuda itu hanya bisa curhat kepada ibunya. Nah, di sinilah gw bayangin gimana perasaan Anusapati atas ketidak adilan itu, dan Ken Dedes yang menyimpan rapat – rapat rahasia ini, namun tidak tahan terhadap derita anaknya itu. Akhirnya sang ibu pun membongkar rahasia itu dan berakhir dengan rencana balas dendam dari sang pangeran, tentunya sekaligus merebut tahta.

Kira – kira seperti ini paragraf dari masing – masing khayalan gw itu😀

Pertama :
“Mengapa kamu nekad melakukan ini?”, tanya Ken Dedes, “Jika ketahuan, kamu bisa dihukum mati. Aku amat membencinya karena menikahiku secara paksa dan saat ini aku tengah mengandung anak darinya”. Wajahnya menyiratkan kebingungan, yang bercampur dengan perasaan suka dan cinta terhadap pemuda tampan di hadapannya.

Ken Arok hanya tersenyum, menggenggam kedua tangan Ken Dedes, mendekatkan wajahnya sendiri ke wajah Ken Dedes sambil memandang kedua matanya, dan berkata pelan “Tenang dan diamlah, agar segalanya berjalan sesuai yang aku rencanakan. Semua ini aku lakukan karena cintaku kepadamu, Ken Dedes…” [Tumapel, 1222]

Kedua :
Di dalam keraton yang sepi, pangeran Anusapati berlutut dan menangis memeluk perut ibundanya, Ken Dedes. “Ibunda, aku sudah tidak tahan lagi. Sejak aku kecil, ayahanda prabu memperlakukanku sangat berlainan dengan adik- adikku. Ibunda, apakah aku benar – benar putra beliau?”

Ken Dedes tidak dapat menahan tangisnya mendengar pertanyaan putra tertuanya itu. Dibelainya rambut dan kepala anak muda itu berkali – kali, sebelum kemudian dia terpaksa membongkar rahasia yang bertahun – tahun dipendamnya “Anakku, sebenarnya kamu bukanlah putra dari paduka Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi..”

Anusapati terdiam, kemudian bangkit dan memandangi ibunya dengan tajam “Lalu siapa ayahku ibunda?”

“Ayahmu adalah Tunggul Ametung, awuku Tumapel yang dibunuh oleh Sri Rajasa dengan keris Mpu Gandring itu..” jawab Ken Dedes diantara derai tangisnya, sambil menunjuk sebuah keris tua di dekat peraduan (tempat tidur) sang raja. “Sampai kapanpun aku tidak bisa melupakan peristiwa malam itu anakku. Di saat aku melihat ayahmu terbunuh dengan keris yang masih menancap di dadanya, di saat aku tidak dapat memungkiri bahwa aku mencintai pemuda tampan dan nekad bernama Ken Arok, dan saat itu aku tengah mengandung dirimu…” Ken Dedes tidak dapat mengakhiri tangis penyesalannya.

“Terima kasih ibunda..” kata Anusapati sambil tersenyum, mendekap dan memeluk ibunya dengan tangan kirinya agar tenang. Namun tangan kanannya memegang keris Mpu Gandring, dan dipandanginya dengan tajam, sambil berkata dalam hati “Secepatnya kau pun harus mati dengan keris ini Ken Arok. Akan aku rebut tahta Singasari darimu…!!!”.[Keraton Singasari, 1247].

Mudah – mudahan pakde Langit bisa membuatkan novel tentang Ken Arok dan peritiwa berdarah akibat kutukan keris tersebut. Beliau sudah bikin sih novel Ken Arok yang di Padang Karautan itu, tapi tidak sampai membahas ke perang Ganter (yang menjatuhkan Kediri dan membangun wangsa Girindra Singasari) beserta anak cucu Ken Arok.

Dan gw yakin pakde pasti bisa bikin kata – kata yang lebih bagus sama kek di novel Gajah Mada ini hehe😀

One thought on “Berkhayal ke Jaman Singasari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s