Libur, Sawah, Tenang, dan Indonesia


Hari ini tanggal merah. Gw lagi dapat libur meski sebenarnya di akmpus juga libur semesteran dan kebetulan pulkam juga ada kerjaan. Jadilah 1 hari ini gw putuskan main ke rumah kakek di desa. dari pagi gw udah di rumah kakek, lalu bareng ama beliau ke sawah.

Seperti biasanya, gw menikmati banget ke sawah. Suasananya damai, tenang, teduh, hijau. Bekerja di sawah juga sekalian olahraga. Bayangkan, pagi hari, bermandikan sinar matahari, sudah olahraga nyangkul, angkut – angkut hasil bumi (tadi pagi tuh pisang), trus motong rumput buat pakan sapi, sambil ngasi babi dan ayam makan.
Berteduh di bawah pohon pada siang hari, sambil makan nasi sela (bahasa bali, nasi yang dibuat dari campuran beras dan potongan ubi/ketela kecil2, enak banget dengan lauk dan sayur apa saja) yang dibuat oleh bibi (istri paman gw) dari hasil alam dan meneguk air bening langsung dari sumbernya *ngambil dari sumber mata air dekat sana, tenang, higienis).
Kadang gw berpikir, betapa besar karuniaNya. Kadang bukan materi atau gemerlap kota besar yang bisa membuat kita bahagia, tapi justru dari sesuatu yang sederhana. Hidup sebagai petani adalah landasan rasa syukur, berbakti kepada Tuhan dan sesama, kepada alam, dan lepas dari beban pikiran, stress, sebagaimana di dunia kerja kota besar.
Ironi memang, jika hasil alam dijual murah, atau justru SDM yang tidak berkualitas, atau anak muda yang gengsi menjadi petani. Toh, gw sendiri tidak peduli jika harus menjadi petani. Justru, kembangkanlah sistem pertanian yang maju, disertai dengan sistem pemasaran yang maju juga, misal menjual dalam bentuk 1/2 jadi atau jadi, bukan lagi mentah (kopi, coklat, padi, dll).
Sore hari gw balik ke rumah di Gianyar. Kemudian mandi, online, dan ngeblog. ya, seperti apa yang gw paparkan ini.
Kadang terbersit kembali pertanyaan – pertanyaan yang muncul di benak gw berkali – kali. “Indonesia sungguh surga dunia. Tanah subur, SDA berlimpah, alam indah. Mengapa kita bangga menggunakan buah – buahan dan sayuran import? Atau mengapa harus diimport?Bukankah lebih baik dikembangbiakkkan di negeri sendiri? Bukankah tanah kita subur? Ataukah ada hak paten terhadap tanaman sehingga tidak boleh dikembangkan di negara lain? Coklat, tembakau, kopi, teh, awalnya juga berasal dari negara lain. Dibawa ke Indonesia saat jaman tanam paksa penjajahan Belanda. Andaikan saja ditanam dan diolah dengan baik tentu bisa, minimal, memenuhi kebutuhan dalam negeri, sebelum kemudian ke arah lebih luas yaitu dieksport. Ada berapa juta tenaga kerja yang bisa terserap, mulai dari petani penanam hingga tenaga industri untuk pengolahan jadi maupun setengah jadi? Bukankah itu sudah sangat luas dan padat karya? dan itu baru tercakup di SDM di bidang pertanian. Bagaimana dengan perkebunan, perhutanan, pertambangan, dll?”

Gw rasa, jika pertanyaan – pertanyaan gw ini bisa dituntaskan dalam bentuk tindakan nyata, bisa jadi, kita makmur. Kita tidak lagi harus eksport tenaga kerja rendahan yang direndahkan di luar negeri sana sebagai TKI/TKW, yang mayoritas lebih banyak kena apes ketimbang mendulang emas dan uang.

2 thoughts on “Libur, Sawah, Tenang, dan Indonesia

  1. inilah indonesia, generasi muda yang berpikiran maju sangat kurang, sukanya instan bli,😛
    terima kasih atas pencerahan ilmu linuxnya selama ini, baru saya sadari ternyata buat belajar command server harus pake command2nya, ini toh di suruh explore dari dulu, ayee baru tau, thx blii😀
    good luck

    • sama2🙂

      iya miris melihatnya secara langsung.

      saya pribadi menyukai pertanian dan tidak ada salahnya bertani dan merekrut buruh tani lainnya sembari tetap mengajar dan membuka usaha lainnya. jalanin dengan semangat dan ikhlas, semuanya pasti berguna🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s