Anda Blogger Ya ? Anda Hacker Ya ? Anda Cracker Ya? Atau Carder?


Copas dari :
http://imw85.blogdetik.com/2008/04/06/anda-blogger-ya-anda-hacker-ya-anda-cracker-ya-atau-carder/

Bukannya mau ikut-ikutan polemik yang lagi ramai, tapi cuma lagi iseng saja. Sering orang menjadi pusing ketika harus mengkategorikan atau mengklasifikasikan sesuatu. Begitu juga sering kondisi menjadi carut marut tidak karuan, ketika terjadi proses penggolongan yang ngawur. Kategorisasi obyek ini adalah salah satu hal yang sering difikirkan oleh mbah Betrand Russel, sehingga dikenal dengan istilah paradox Russel.

Apalagi keterbatasan kapasitas pikir manusia menjadikan orang cenderung melakukan generalisasi. Sedangkan kekurangan informasi atau ketidak pastian menyebabkan orang melakukan prediksi. Bagaimana kalau gabungan keduanya ? Kekurangan informasi dan keterbatasan kapasitas pikiran ? Akibatnya prediksi yang penuh generalisasi dan memiliki kemungkinan salah besar (walau bisa juga benar). Bagi yang tertarik dengan matematika, bisa membaca tulisan pak Dubois et al., dalam teori yang menggabungkan probabilitas dan possibilitas di dalam uncertainty dan incomplete information [http://citeseer.ist.psu.edu/118059.html]

Mirip dengan kasus ini klasifikasi blogger, hacker, cracker, carder. Semuanya penuh dengan ketidak lengkapan informasi dan ketidak tepatan definisi. Sebagai contoh mari kita lihat dari sisi bahasa blogger : blog+er, artinya pertama kali kita harus tahu apakah blog itu? Nah di sinilah mulai ketidak jelasan definisi, karena apakah blog itu ? Apakah model konten dengan pola interaksi dan alur tertentu ? Atau ada definisi lain. Siapakah yang memiliki otoritas menentuakn definisi blog itu ? Pakar blog, bapak blog, atau siapa saja ?

Sebab ada juga definisi agak membabi-buta yang menganggap, kalau tidak memakai engine blog yang umum seperti WordPress [http://www.wordpress.org] atau Drupal [http://www.drupal.org] maka tidak disebut blog. Ada juga yang menganggap kalau tidak ditulis dengan gaya penceritaan orang pertama (saya) dan tidak terkesan pribadi maka tidak pantas disebut blog. Nah dengan definisi yang masih tidak jelas ini, ditambah dengan “er” (pelakunya) maka menjadi makin runyam lagi. Maka lengkaplah sudah kebingungan pengelompokan. Siapakah blogger ? Bisa jadi siapa saja.

Begitu juga dengan hacker vs cracker. Istilah hacker sendiri mengalami transformasi dari arti yang bersifat “putih” menjadi sedikit abu-abu. Apalagi di beberapa negara memiliki konotasi yang tidak sama. Sebagai contoh di negara USA mungkin hacker bisa dipisahkan putih atau hitam, tetapi di negara seperti Jerman relatif hacker cenderung memiliki konotasi negatif (seperti cracker) karena bahasa Jerman memiliki istilah sendiri untuk hacker yang positif. Walau di Jerman ada kelompok Chaos Computer Club [http://www.ccc.de] tapi jarang sekali mereka mendeklarasikan dirinya sebagai hacker, lebih suka sebagai pengeksporasi teknologi.

Bagaimana Indonesia ? Kita adalah penyerap istilah yang baik tetapi kadang kelewatan kreatif karena sifat membabi buta. Indonesia tidak seperti Jerman yang telah memiliki kata hacker tetapi kita menyerap dari istilah hacker di USA yang dapat memiliki konotasi positif (alias tukang oprek). Sehingga penggunaan hacker untuk mendefinisikan orang yang melakukan penetrasi secara tidak sah sangatlah menyinggung perasaan. Seperti kata lagu dangdut “Teganya kau tuduh diriku“. Mungkin sudah pada saatnya kita menggunakan istilah yang membumi, gaul dan funky, yaitu pengoprek (istilah peretas seperti KBBI masih sangat membingungkan).

Memang antara hacker dan cracker tipis bedanya. Sepertinya hanya faktor intensi dan keabsahan saja. Tetapi sebetulnya lebih dari itu, hacker cenderung menikmati proses menghack bukan hasilnya. Sedangkan cracker lebih cenderung menyukai hasilnya saja, misal berhasil masuk tanpa izin. Sehingga kalau hacker cenderung ingin mengeksplorasi “BAGAIMANA” nya ,sedangkan cracker cenderung fokus pada TUJUAN, dan menerapkan prinsip ekonomis, yaitu semudah mungkin, secepat mungkin, agar berhasil masuk ke suatu sistem. Hal ini jelas dari langkah yang dilakukan, ketika melakukan penetrasi seorang cracker cenderung melakukan scan secara massal, cari sistem yang paling mungkin masuk, misal dengan exploit tool paling mudah, masuk dan pajang jejak sebagai bukti telah masuk (hasil sebagai tujuan). Istilahnya kalau ada exploit yang siap pakai, ngapain susah-susah bikin exploit sendiri.

Sedangkan seorang hacker cenderung menikmati prosesnya, misal ingin melakukan uji penetrasi dia lebih cenderung pada tantangannya. Jadi jarang yang melakukan scan massal, cari situs dengan kelemahan yang ada exploit termudah dan masuk, tetapi melihat sasaran, mempelajari konfigurasi, memeriksa celah yang mungkin, dan bila perlu menulis tool khusus atau melakuakn reverse engineering untuk mencari celahnya. Dan bila berhasil masuk, biasanya hanya memberi tahu pengelolanya di mana kelemahannya.

Jadi hacker sejati jarang sekali hanya tertarik untuk meninggalkan jejak di situs, apalagi situs yang tidak ada hubunganya, hanya karena situs itu memang eksploitnya ada dan terbuka. Kegiatan melakukan scan massal dan melihat lobang lalu masuk, lebih mirip seperti vandalisme digital, melakukan grafiti di tempat yang tidak diawasi. Penguji penetrasi yang biasanya tidak ingin meninggalkan jejak, misal mengubah halaman utama atau halaman yang ada.

Kalau carder agak jelas kelompoknya, mereka memakai data kartu kredit orang lain. Tetapi orang masuk ke kelompok-kelompok tersebut bukan secara eksklusif, artinya bila seseorang di kelompok A, maka dia tidak di kelompok B. Jadi ada yang tergolong semuanya, ya dia ngeblog, ngehack juga, dan kalau lagi iseng ngecrack dan pas mau belanja pakai kartu orang alias jadi carder. Tapi ada juga yang tidak termasuk semuanya, ngeblog ndak, ngehack juga ndak, pakai kartu kredit orang juga ndak pernah.

Nah permasalahan menjadi rumit ketika orang yang termasuk golongan A dituduh sebagai golongan B. Atau ketika golongan X yang begitu beragam dituduh sebagai anggota golongan Y. Walaupun memang ada anggota golongan X yang anggota golongan Y juga.

Jadi bagaimana donk ? Nah untuk menghindari kekacauan kategorisasi ini,sebetulnya mudah, yaitu hindari generalisasi berlebihan apalagi bila tanpa informasi yang lengkap. Media massa harus berperan dalam mengurangi generalisasi berlebihan ini, jangan malah bikin generalisasi yang kacau balau.

5 thoughts on “Anda Blogger Ya ? Anda Hacker Ya ? Anda Cracker Ya? Atau Carder?

    • Hehe boleh2. Itu copas dari pak made wiryana di blognya beliau, baca aja di daftar sumbernya.

      sip, makasi atas kunjungannya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s