Pembinaan Umat Hindu


Artikel ini murninya saya peroleh dari pemikiran oleh bapak Putu Setia. Ada baiknya saya copas langsung disini, kiranya rekan-rekan agama Hindu dapat memperoleh makna yang bermanfaat.

Umat Hindu di Nusantara memang perlu pembinaan yang terus menerus. Ini sesungguhnya masalah lama, bukan masalah yang baru muncul. Dibandingkan dengan pembinaan pada umat lainnya, umat Hindu sangat jauh tertinggal. Penyebabnya sudah pasti karena agama Hindu selama ini lebih banyak dipraktekkan dari sisi ritualnya saja, tidak diimbangi dengan sisi lain seperti tattwa. Akibatnya ketimpangan itu terjadi, umat menjalankan ritual agama tanpa mengetahui seara sejatinya untuk apa ritual yang dijalankan itu.

Lemahnya pembinaan umat Hindu syukurlah sudah mulai diakui oleh para tokoh umat termasuk kalangan birokrat, Gubernur Bali, Dirjen Bimas Hindu, Ketua Parisada, Ketua Majelis Desa Pekraman, wakil-wakil rakyat, bahkan para Sulinggih sudah mengakui bahwa umat perlu memndapatkan pembinaan yang lebih bagus. Hal itu, misalnya, terucap pada Pesamuhan Agung parisada yang digelar di Denpasar, pada awal November lalu (tahun 2007-TS-).

Kalau sudah diakui secara bersama-sama, bagaimana kita melangkah agar pembinaan umat bisa lebih baik dilaksanakan? Tentu sebelum melangkah kea rah itu, ada baiknya kita melakukan inventarisasi, di mana kelemahan umat selama ini. Setelah tahu hal itu, kita bisa memetakan masalah, siapa yang kira-kira akan membina, di mana mereka membina, dengan cara apa mereka membina, dan apa kendalanya dalam membina.

Mari kita inventarisasi kelemahan itu. Kelemahan mendasar adalah kurangnya pemahaman tatwa pada umat. Penyebabnya sudah diketahui bersama, umat Hindu “terlambat” mempelajari tatwa agama, karena agama yang mereka lakukan selama ini adalah ajaran “gugon tuwon” yang diwariskan secara turun temurun sehingga ada istilah “anak mula keto”. Dari kakek menerima warisan “anak mula keto” tersebut, lalu dilanjutkan ke sang ayahyang melanjutkan menjawab secara “anak mula keto” ke anaknya. Dan begitu seterusnya. Nah, sang anak tentu akan bingung, mengapa harus “anak mula keto”?

Memberantas kemiskinan tatwa ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Cara yang efektif adalah mencetak buku-buku agama, dari buku yang sangat sederhana sampai buku yang lebih mendalam. Hal ini sudah mulai dilakukan sepuluh tahun sebelumnya. Lihatlah sekarang, penebit-penerbit buku Hindu bermunculan dan mulai tersebar begitu banyak buku. Bahkan buku bacaan untuk anak-anak yang sangat sederhana bisa diperoleh secara gratis. Majalah Raditya, misalnya, sudah menyalurkan ribuan buku gratis ke umat yang membutuhkan.

Namun, pembinaan melalui buku menghadapi masalah karena minat baca di kalangan umat Hindu tergolong kecil dibandingkan umat lainnya. Kalau umat lain, hampir di setiap rumah tanga punya buku suci agamanya masing-masing, apakah pada keluarga Hindu ada buku-buku agama? Belum tentu. Maka, pembinaan umat juga harus dilakukan dengan lisan, dengan ceramah, dengan dharma wacana atau dharma tula, dengan mendatangkan guru-guru agama melalui pendidikan formal maupun informal.

Sekarang mari kita lihat kendalanya. Guru agama mempunyai tugas yang penting sebagai pembina umat yang masih pada usia dini. Kendalanya adalah kita tidak banyak punya guru agama. Guru agama hindu sangat sedikit. Satu guru agama Hindu di Bali bisa mengajar di empat Sekolah Dasar. Di bali saja seperti itu. Bayangkanlah bagaimana di luar Bali. Padahal Pemerintah menentukan, pendidikan agama di sekolah harus diberikan oleh guru yang seagama.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Pengangkatan guru agama Hindu seret, termasuk di Bali, karena kita tidak punya lembaga pendidikan Hindu. Umat Islam mempunyai madrasah, umat Kristen (Protestan, Katolik) punya sekolah yang jelas mencantumkan label agamanya. Umat Hindu tidak punya, karena sejak dulu tidak ada yang peduli, malah ada yang malu atau takut mencantumkan label Hindu. Lihat saja pendirian TK (Taman Kanak-Kanak), misalnya. Apakah ada TK Hindu? Sementara TK Islam dan TK Kristen (katolik, Protestan) ada di mana-mana. Saat ini, di setiap desa di bali sudah ada TK. Namun tidak memakai nama TK Hindu. Akibatnya, pemerintah tidak bisa memberikan bantuan guru Hindu ke sana. Ini yang menyebabkan pengakantana guru agama Hindu di Bali sangat timpang. Guru agama Hindu sangat sedikit, sedangkan guru Islam berpuluh-pulh jumlahnya. Pertanyaannya, sampai kapan kita “malu” memakai label Hindu?

Pembina umat di luar guru idelanya adalah Sulinggih. Mereka ini tentu sangat menguasai tatwa agama. Tapi, berapa banyak sulinggih yang “punya waktu” untuk itu? Kebanyakan Sulinggih disibukkan dengan “muput karya”. Coba saja sekarang ini diuji, jika ada panggilan “muput karya” dan panggilan “member pencerahan agama”, kebanyak Sulinggih memilih “muput karya”. Alasan sulinggih masuka akal karena menjalankan sesana kesuliggihan. Di masa depan diperlukan Sulinggih yang punya waktu lebih banyak dalam membina umat.

Di luar Sulinggih, Pembina agama bisa dilakukan oleh para walaka atau yang biasa disebut tokoh-tokoh umat. Mereka ini profesinya bukan guru agama, tetapi tahu masalah agama. Termasuk di dalamnya adalah para pengurus Parisada, Sampradaya, LSM Hindu, dan sebagainya.

Namun kendala yang dihadapi adalah pembinaan yang dilakukan tidak serta merta memberikan pemahaman tatwa yang mendasar, tetapi lebih banyak mengarah kepada “keinginan” sempit sang Pembina. Kalau Pembina itu punya kursus membuat banten, maka yang dibina pastilah soal banten. Ada seratus lebih jenis sesayut yang akan diberikan. Padahal menurut Weda, persembahan bisa dengan “sehelai daun…”

Tak terhindarkan hal-hal seperti ini terjadi, ada muatan-muatan kelompok yang mencuat. Lalu dimana peran Lembaga Dharma Duta yang melahirkan Pembina umat? Apakah mereka sudah punya pedoman standar dalam pembinaan umat? Jangan-jangan, yang mengurusi lembaga itu juga perlu dibina dulu

4 thoughts on “Pembinaan Umat Hindu

  1. Pembinaan beragama harus seimbang baik menyangkut lahiriah maupun bathiniah. Yang paling penting saat ini adalah pembinaan sikap mental generasi muda Hindu dalam menghadapi abad informasi yang sangat berlimpah ruah saat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s