Kisah Pilu Tukang Tambang Batu Kapur


Sabtu lagi ga ada kuliah. Seperti biasa, gw bangun kesiangan dan malas-malasan nonton tipi.  Hm, kenapa yah, tiba-tiba gw tertarik mencari channel SCTV dan pas saat itu ada program acara yang mengangkat kisah hidup sehari-hari seorang tukang tambang batu kapur (sori, gw lupa di daerah mana tepatnya, yg jelas di daerah Jawa, mengingat logat orang itu saat diwawancarai oleh pembawa acara).

Gw , entah mengapa, terhenyak melihat kisah hidup memilukan dari tukang tambang batu kapur ini. Dengan pekerjaannya yang mengangkut batu kapur setiap harinya, ia hanya memperoleh upah Rp 15.000,00 per harinya. Suatu jumlah, yang mungkin untuk kita, sangat kecil atau hanya cukup untuk sekali makan :(
Dengan penghasilan itulah ia menafkahi keluarganya di rumah yang sederhana, malah sangat sederhana. Bantuan yang (katanya) akan diberikan pemerintah (dan masing-masing KK hanya menerima Rp 300.000,00) tak kunjung datang. Sudah bisa dipastikan kemana uang itu “masuk”…hahaha😆 dan kata pemerintah setempat sih, masih mendata keluarga mana yang “layak” untuk diberikan bantuan (udah jelas ada yang benar-benar kekurangan, masih juga ga ngeh…dasar👿 )

Memang, dengan kehidupannya yang sederhana, seakan ia menerima begitu saja takdir hidup yang digariskan kepadanya. Contoh manusia yang tidak serakah, berlainan dengan manusia pada umum
nya saat ini. Untuk menambah nafkah, ia menjadi buruh pencari rumput bagi juragan kambing di desanya. Itu pun upahnya akan dibayar jika sang juragan udah beranak kambingnya dan terjual.

Gw memang bersyukur (dan patut bersyukur) lahir di keluarga yang lumayan berada untuk bisa menyekolahkan gw ampe ke jenjang pendidikan perguruan tinggi, dimana mayoritas anak negeri malah tidak bisa melanjutkan pendidikannya hanya karena himpitan ekonomi. Sungguh ironis…

Gw sadar, uang segitu emank hanya cukup buat makan sekali doank, tapi tidak bagi mereka yang kurang mampu. Dan dengan apa yang kita miliki saat ini, apakah kita patut untuk berfoya-foya? menghambur-hamburkan uang? Sementara, diluar sana, ada banyak saudara-saudara satu negeri ini yang hidup dalam kemiskinan, makan sekali aja udah sukur… (dan gw ingat dengan apa yang dikatakan oleh etman gw di milis : ada tukang sapu di bogor yang meninggal karena kelaparan, hanya gara-gara tidak makan, agar jatah makanan bisa diberikan untuk anak dan istrinya…sungguh ironis :(  ).

Kadang gw g habis pikir. Apa bedanya kondisi negeri saat ini dengan apa yang dialami saat penjajahan dulu (yang diceritakan oleh kakek gw, saksi hidup penderitaan jaman penjajahan Belanda-Jepang).

Inikah arti kemerdekaan? Rakyat di pusat kota dan pemerintah hanya melihat dari sudut pandang mereka. Jika saja mereka (pemerintah) mau turun langsung
ke lapangan dan melihat dengan mata kepala sendiri apa yang dialami oleh anak negeri ini, kaum kelas bawah negeri ini (secara teori tidak ada kelas-kelas dalam masyarakat kita, tapi kenyataannya ??), mungkin pemerintah dan mereka yang berduit banyak bisa menyumbangkan sedikit apa yang mereka miliki, yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi mereka yang memerlukan.

kadang aku tidak yakin….
Sifat kikir manusia memang lebih kuat daripada perasaan untuk berbagi dengan sesama :( Aku hanyalah hamba Tuhan. Aku lahir tidak membawa apa apa, mati pun tidak ada yang aku bawa. Aku lahir untuk menjalani karma dari kehidupanku yang dulu, mati pun hanya amal baik dan buruk saja yang aku bawa…

Tuhan, ampunilah dosaku……………
Tuhan, selamatkanlah mereka yang menderita………
God, I’m believe U

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s