Catatan Bytescode
apa yang ada di pikiranku, apa yang ku dapat di belantara internet……..

Fenomena Dunia Bisnis Jasa Layanan Internet di Indonesia dan Tindakan Speedy


Keberadaan dunia bisnis yang mengetengahkan jasa layanan internet, dewasa ini sangat menyedot perhatian masyarakat Indonesia selaku konsumen. Di saat perkembangan teknologi dan ketergantungan manusia terhadap koneksi internet, memberikan peluang untuk penyediaan jasa layanan internet, baik melalui line telepon maupun broadband secara wireless.

Tulisan ini penulis buat bukan untuk menjelekkan suatu pihak maupun hal negatif lainnya. Hanya ingin membandingkan layanan yang ada dari sudut pandang konsumen, meskipun antara broadband (wireless) dengan yang melalui line telepon, jelas amat berbeda.

Telkom sebagai perusahaan pemegang jasa telekomunikasi terbesar di negeri ini, meluncurkan jasa layanan Telkom Speedy yang menjanjikan kecepatan dan kenikmatan berselancar yang lebih baik daripada pendahulunya, Telkomnet Instant. Layanan ini, sebagaimana yang dulu, tetap mengharuskan konsumen untuk memiliki line telepon (dan tentu saja sebuah modem) untuk bisa menggunakan layanan ini.

Disamping Speedy, di luar sana, banyak operator yang menawarkan jasa layanan internet kepada publik dengan hanya menggunakan HP berfitur 3G (sebagai modem) atau modem yang dikhususkan untuk itu, disamping proses registrasi (pendaftaran) yang cepat dan mudah. jalur yang dipakai wireless, jadi tentu saja di balik kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan, tersimpan sedikit “resiko” apabila daerah konsumen tidak tercakup dalam coverage area dan atau halangan wireless lainnya (gedung, tembok, BTS, dll) terkait media gelombang yang dipakainya.

Menyikapi hal ini, tanpa bermaksud menjelekkan suatu pihak, penulis dalam sudut pandang pribadi, justru berpendapat, bahwa kepuasan konsumen adalah hal yang utama dalam berbisnis. Bisa disingkat bahwa konsumen adalah raja.

Telkom tentu berpeluang untuk di”kalah”kan oleh pesaing-pesaing lainnya jika tidak bisa memuaskan konsumen. Dalam dunia bisnis, memenuhi keinginan konsumen dan membuat konsumen puas, adalah sebuah “ladang” untuk kompetisi antar pelaku bisnis, baik dalam dunia bisnis apapun, termasuk juga jasa layanan internet. dan mengalahkan pesaing-pesaing lainnya (dalam cakupan yang benar dan tidak curang) tentu saja bukan merupakan hal yang dilarang dalam berbisnis.

Indonesia dengan penduduk yang besar, merupakan ladang untuk bisnis yang menjanjikan. Kemajuan teknologi dewasa ini menyebabkan makin banyak masyarakat Indonesia yang terhubung ke internet (dan tentu saja membutuhkan jasa layanan internet), baik untuk informasi, pendidikan, pekerjaan, maupun social networking semata.

Penulis akan mencoba memaparkan pengalaman teman penulis, yang datang sendiri ke kamar penulis di kosan beberapa waktu yang lalu, untuk menyampaikan uneg-unegnya saat itu.

Teman penulis ini semenjak mengenal suatu social networking di internet, mulai merasakan adanya manfaat internet dan berpendapat bahwa jaringan di kosannya harus tersambung internet. Awalnya ia ingin mencoba akses Speedy. maka didatangilah kantor Telkom Bandung untuk menyampaikan permintaan pemasangan line teleppon+modem+Speedy. tapi, sampai sekian kali bolak-balik, tetap saja belum ada tanggapan dan tindakan nyata dari pihak Telkom. Line telepon saja sungguh lama belum terpasang, hingga sekian bulan sejak awal ia mengajukan permohonan itu. Padahal, line telepon adalah prasyarat utama jika ingin menggunakan layanan Speedy. Suatu prosedur yang lumrah. Jika diteliti, lokasi kosan teman penulis yang jauh dari kota Bandung dan terkesan terpencil, mungkin menjadi salah satu faktor lamanya proses pemasangan line telepon. Bisa juga, karena hanya kosan teman penulis saja yang mengajukan pemasangan line telepon, sementara tetangga sekitar tidak. Menurut isu yang kerap penulis dengar, pihak Telkom hanya akan memasangkan line telepon jika lokasinya dekat dengan kota atau jika lokasinya terpencil, minimal ada 3-4 konsumen yang mengajukan pemasangan line telepon secara bersamaan. Konon, untuk menghemat biaya. Di samping itu, akan lebih cepat jika anda memiliki “kenalan” atau “orang dalam” yang bekerja di Telkom. Sampai tulisan ini penulis posting, penulis belum mengetahui sejauh mana kebenaran isu ini.

Entah karena kesabarannya habis, memperoleh info layanan broadband, atau keinginan untuk segera memperoleh akses internet, teman penulis memutuskan mencoba layanan broadband Telkomsel Flash. Bermodalkan registrasi via SMS, SIM card, dan HP miliknya sebagai modem, teman penulis dapat segera menikmati akses internet. Meski lokasi kosan terpencil, namun akses 3,G diperoleh. Ini berarti termasuk dalam cakupan coverage area (sesuai juga dengan motto Telkomsel :D , meski kosannya di daerah terpencil ) Teman penulis juga pernah mencoba layanan Broom dari Indosat IM2.

Yang penulis tekankan pada tulisan ini (sekali lagi..) bukanlah menjelekkan suatu produk, namun menjelaskan sudut pandang dari sisi konsumen. Konsumen, dimana pun dan bagaimanapun juga, selalu menginginkan kemudahan dan kecepatan proses serta layanan yang baik.

Dari penuturan penulis di atas berdasarkan pengalaman salah seorang teman, penulis mengutarakan beberapa point-point penting berikut :
1. Kemudahan
Layanan broadband lebih baik dari Speedy dalam hal kecepatan dan kemudahan registrasi (pendaftaran) untuk memperoleh layanan internet. Dengan hanya menggunakan sarana SMS (sesuai format yang diminta), layanan broadband pada umumnya (dalam hal in penulis ambil sampel Flash dan Broom) dapat segera dinikmati oleh konsumen. Jika ingin memperoleh paket yang lain, bisa dipilih sesuai ketentuan. Bandingkan dengan Speedy yang mewajibkan konsumen harus memasang/memiliki line telepon. Permasalahan utama bukan pada line telepon, tapi bagaimana cepatnya proses agar line telepon itu segera terpasang, sebagaimana pengalaman teman penulis sebagai konsumen dari daerah yang terpencil. Jika prosesnya lama, apalagi berbelit-belit, calon konsumen akan segera beralih ke alternatif lainnya.

2. Belum Merata
Keberadaan layanan Telkom Speedy belum mencakup seluruh wilayah di Indonesia. Selama ini, yang penulis ketahui, Speedy hanya mencakup beberapa daerah di Indonesia, itupun di daerah yang notabene “tidak terpencil” karena lebih “menjanjikan”.
Jika penulis boleh memberikan saran, seharusnya pihak telkom tidak “pilih kasih” dalam hal ini. Apabila masyarakat di pelosok terlanjur “tidak diperhatikan” dalam hal layanan internet, mungkin saja akan ada pihak lain yang akan segera “menyerbu” mereka dengan layanan yang lebih baik, jika pesaing ini bisa membaca peluang bisnis yang ada di depan mata. Jika ini terjadi, tentu Telkom akan kehilangan calon-calon konsumen.

3. Bagaimana Meraup Konsumen Yang Belum Melek IT?
Terkait nomor 2 di atas, untuk daerah-daerah terpencil di Indonesia, dimana penduduknya pun mungkin belum sepenuhnya tahu dan paham akan IT, hal ini bisa diselesaikan dengan memberikan layanan/penyuluhan mengenai pentingnya internet di era komputerisasi ini. Mungkin awalnya diberikan sarana akses internet gratis (dan juga bantuan perangkat komputer dan pemahamannya) sebagai motivator, kemudian setelah mereka mengetahui manfaat komputer dan internet dan terbiasa menggunakannya, Telkom bisa mulai memberikan layanan Speedy dengan harga semestinya.
Tindakan ini bukan untuk menjebak konsumen, tapi memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Di sisi masyarakat, tindakan ini akan membuat masyarakat terpencil melek terhadap IT. Di sisi Telkom, tentu saja akan meningkatkan jumlah konsumen (syukur-syukur jika berubah menjadi pelanggan tetap). tarif yang ditentukan pun hendaknya bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan konsumen pada umumnya.

4. Minimnya Penduduk Indonesia Yang Terhubung ke Internet
Dari point nomor 3 di atas, penulis mendasarinya dari kenyataan saat ini. Jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar serta wilyaha geografis berupa kepulauan, ditunjang oleh tidak meratanya pembangunan (termasuk juga IT), menyebabkan tidak merata juga hak WNI dalam memperoleh layanan semstinya. Dalam hal ini penulis mengaitkan dengan layanan internet dan komunikasi. Mungkin untuk saat ini penduduk di Indonesia Timur, Barat, maupun di pelosok-pelosok Jawa-Bali belum sepenuhnya melek terhadap IT, termasuk juga internet. Sungguh ironis jika dikaitkan dengan era globalisasi dewasa ini. Dan akan lebih ironis lagi jika ada pihak lain yang membaca kesempatan ini dan menggaet mereka sebagaimana yang penulis kemukakan di bagian atas.

5. Belajar Dari Layanan Broadband
Pihak Telkom dengan mendasari layanan yang ditawarkan oleh layanan internet broadband, hendaknya bisa memikirkan langkah pemasaran yang lebih baik. Misalkan menambahkan paket yang lebih “ekonomis” dari yang telah ada, sehingga benar-benar bvisa menjangkau semua pihak sesuai keuangan mereka. selain itu, sebagaimana yang penulis utarakan di atas, mulailah melirik calon-calon kosumen di pelosok dan seluruh wilayah Indonesia secara merata.

6. Rancangan Layanan Speedy ke Depan
Pihak Telkom bisa memikirkan rancangan IT untuk meniru jejak broadband lainnya melalui media wireless, penyediaan modem (USB maupun perangkat HP/Flexi), dan hal lainnya, sehingga di sisi konsumen menjadi lebih mudah dan simpel dalam hal penggunaannya. Keberadaan bagian Riset bisa berperan besar untuk memikirkan rancangan ini ke depannya. Meski pada dasarnya antara wireless broadband dan line telepon adalah dua hal yang amat berbeda.

7. Isu-Isu Yang Meresahkan
Terkait isu yang penulis dengar dan juga penulis utarakan sedikti di bagian atas, keberadaan “orang dalam” atau yang “dikenal” (agar bisa terpasang line telepon dan Speedy secara cepat) hendaknya bisa ditindak lanjuti. Hal ini rentan terhadap kepuasan konsumen (sebagaimana teman penulis) dan juga keberadaan “calo” di lapangan. Bukankah akan beresiko adanya “calo” yang dengan seenaknya menaikkan biaya/harga di atas harga/biaya semestinya?Mungkin bisa dipahami bahawa di jaman seperti ini, setiap orang perlu uang. Namun tindakan calo seperti itu justru akan merusak citra Telkom di mata masyarakat.

Mungkin, pada tulisan ini, hanya sekian yang bisa penulis sampaikan mengenai keberadaan Speedy sebagai salah satu layanan internetdi Indonesia. Penulis, sebagaimana masyarakat umumnya, memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dari setiap layanan, dan memilik hak juga untuk menentukan layanan mana yang akan dipilih sebagai akses internet. Ini adalah hal yang wajar dari seorang konsumen.

Terima kasih atas kesediaan anda meluangkan waktu membaca postingan penulis ini dan penulis meminta maaf yang sebesar-besarnya jika ada kesalahan dalam artikel ini, meski penulis tidak ada maksud seperti itu.

Salam.

About these ads

4 Tanggapan to “Fenomena Dunia Bisnis Jasa Layanan Internet di Indonesia dan Tindakan Speedy”

  1. mas, kalo sy orang telkom, mungkin berpikirnya gini: ngapain bikin jaringan telepon di daerah yang potensinya kecil? narik kabelnya aja berat… untungnya cuman 20 ribu (abonemen telepon segitu kan?). hehehehe…

    eh tapi sy sempat kagum lho sama Telkom. dulu di sekolah sy diajarin internet sama Telkom lho. dijarin buat email, cara browsing, bikin blog. kalo kata guru-guru siy gratis. guru internetnya yang langsung dateng ke sekolah. makanya sekarang sy bisa internetan

  2. Ya gitu lah internet Indonesia. Intinya sih ‘SESUAI DENGAN HARGA’, gak ada murah dan bagus. Jadi inget salah satu komentar di detikinet neh (lupa nama komentatornya). “Internet di Indonesia itu terkenal dengan 3 ciri: murah, cepat dan professional. Namun sayangnya pelanggan hanya dapat memilih 2 opsi saja, jadi yang satunya tidak dapet. Jadi klo mo dapet yang murah dan cepat, ya nggak professional. Klo mo dapet murah dan professional, ya nggak cepat. Klo mo dapet cepat dan professional, ya nggak murah….”. Capek deh….. Dipikir2 ya ada benarnya juga. Speedy cuman menang coverage area doank. Klo dia bukan monopoli kabel telpon rumah, mungkin dia udah tergusur dari jajaran ISP. Emang, mpe sekarang jalur kabel tetep no. 1 ditinjau dari kualitas jaringan. Tapi sekarang zamannya portabilitas, jalur 3G lebih dipilih karena lebih mobile.
    Klo masalah kualitas, semuanya sama. Mana yang rame, itu yang lemot, mana yang sepi, itu yang bener2 maknyus. Soal kepuasan pelanggan sama aja. Yang namanya orang klo dah terlanjur banyak komplain, yang dikomplain juga ogah ndengerinnya. Aq aja mpe hafal jawabannya 147 klo dikomplain, “Ya, nanti kita bantu pengecekannya. Nanti dari teknisi kami akan menghubungi bapak”. Tapi kenyataannya cuman omong kosong, nggak ada bukti. Mau yang bagus? Cari yang level corporate, sesuai dengan harga bung.

  3. mungkin pihak telkom berpikir dua kali untuk memangsang line telepon + speedy di bangunan yg berupa KOS,,, karena ke depannya cenderung akan bermasalah , sedangkan untuk perumahan speedy fine-fine aja tidak ada masalah kok..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: